GALERI KU HAL YANG MEMBUATKU SANGAT SENANG KETIKA DIWAKTU LUANG MENGENANG MASA SEKOLAH
Widget Animasi

Jumat, 27 April 2018

Mengenal kebaikan adalah jalan untuk beramal

*🌴🌴Mengenal Kebaikan adalah Jalan untuk Beramal🌴🌴*

✍🏻 _Muhammad Abduh Tuasikal, MSc_

Agar kita mudah melakukan kebajikan, maka kenalilah kebajikan tersebut. Begitu pula agar kita terselematkan dari kejelekan, maka kenalilah pula kejelekan tersebut. Jika ingin selamat dari syirik, maka pelajarilah macam-macam syirik. Jika ingin menjadi muwahhid (ahli tauhid), maka pelajarilah tauhid dengan benar.

 *Ibnu Taimiyah rahimahullah* berkata, *“Ilmu adalah jalan untuk beramal dan jalan (sebab) menuju sesuatu.* Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَآَتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“ *Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS. Al Kahfi: 84)* . Yang dimaksudkan “ _segala sesuatu” di sini adalah ilmu. [Jadi karena ilmu sebab menggapai tujuan, pen]_

Jika kita mengenal hal-hal baik, maka itu adalah jalan kita untuk mengamalkannya. Begitu pula jika kita mengenal hal-hal jelek, maka itu adalah jalan kita untuk tidak melakukannya. Namun semua ini tergantung niat. Kadang malah jiwa selalu mengantarkan kepada kejelekan. Jika kita mengilmui (mengenal) kejelekan malah kadang mendorong kita untuk melakukanya. Begitu pula ketika kita mengenal kebaikan malah membuat kita enggan melakukannya. Hal ini terjadi pula dalam hal dosa dan dalam perkara yang melampaui batas tanpa lewat jalan yang benar. *Contohnya saja minuman keras yang diambil dari zat-zat yang memabukkan, maka kadang dikelabui dengan nama yang lain sehingga orang menilainya halal padahal nyatanya khomr (sesuatu yang memabukkan).” (Qo’idah fil Mahabbah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 192, terbitan Dar Ibnu Hazm)*

Artinya di sini, jika kita ingin beramal kebaikan dan menghindarkan diri dari kemungkaran, maka awalilah dengan berilmu terdahulu. Berilmulah tentang kebaikan supaya kita bisa mengamalkannya dan berilmulah pula tentang kejelekan supaya kita bisa menjauhinya. Mudah-mudahan kita dihindarkan dari niat buruk yang bisa mengubah maksud tadi.

Wallahu waliyyut taufiq.

________🌱________
-===============-
🔄 *Published by* : _Grup Remaji Salafiyyah Kampar (RSK)_

Tema Artikel Islam : *Tauhid, Aqidah, Manhaj, Adab, Fiqih, Siroh (Nabi, Sahabat & Ulama, Tazkiyatunnafsi, Motivasi, dll.*
________🌱________
-===============-



=======🌸=======

📡 *Silahkan share, semoga menjadi amal jariyah*

Kamis, 26 April 2018

Said bin Zaid Al-'Adawi Radhiyallahu Anhu

📓 *_SIRAH SAHABAT_*
_______________________________

*SAID BIN ZAID AL-‘ADAWI RADHIYALLAHU ANHU*
📝Oleh *Ustadz Abu Minhal, Lc*
_______________________________

💎Termasuk aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, mempersaksiksan sebagai penghuni Surga bagi orang-orang yang sudah diberitahukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka akan memasuki surga dengan menyebut nama mereka masing-masing. Ada sekian sosok mulia yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut nama mereka dengan terang-terangan bahwa mereka  termasuk penghuni Surga, walaupun mereka masih hidup di muka bumi.

🌹Di antara orang-orang mulia itu, ada deretan sepuluh orang yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut secara berturut-turut sebagai penghuni surga yang kemudian lebih dikenal dengan julukan *al-‘asyrah al-mubasyyarûn bil jannah* (sepuluh orang yang mendapat kabar gembira akan memasuki Surga). Mereka itu adalah *Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu, ‘Utsmân bin ‘Affân, ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu , Thalhah bin ‘Ubaidillâh, Az- Zubair bin Al-‘Awwâm Radhiyallahu anhu , ‘Abdur Rahmân bin ‘Auf Radhiyallahu anhu , Sa’ad bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu , Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu , Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrâh Radhiyallahu anhu.* [1]

💦Allâh Azza wa Jalla  telah memberikan berita kepada Rasul-Nya tentang perkara gaib ini. Dan ini termasuk kandungan firman-Nya berikut:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿٢٦﴾ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

*“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”.* [Al-Jin/72:26-27]

🍃 *Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu* 🍃

💦Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi terlahir di Makkah. Nama lengkapnya *Sa’îd bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyâh bin Qurth bin Razâh bin ‘Adi bin Ka’b bin Lu`ai bin Ghâlib al-Qurasyi al-‘Adawi Radhiyallahu anhu.* Salah seorang Sahabat Nabi yang masyhur lagi  terpandang. BerkunyahAbul A’war. Beliau berasal dari satu suku dengan ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu , tepatnya, merupakan putra pamannya. Garis nasab mereka berdua menyatu pada Nufail. Istri Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu, Fâthimah binti Khaththâb Radhiyallahu anha merupakan saudara perempuan ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu .

📌Sementara sang ayah, Zaid bin ‘Amr bin Nufail termasuk orang-orang yang lari kepada Allâh Azza wa Jalla dan menghindari penyembahan terhadap berhala-berhala. Ia masih berada di atas millah Ibrahim. Sempat menjumpai masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul, dan tidak lama kemudian ia meninggal.

1⃣ *Termasuk As-Sâbiqûnal Awwalûn*

🌸Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu menyatakan keislamannya sejak dini bersama sang istri, sejak awal perkembangan dakwah Islam. Bahkan keislamannya menjadi sebab Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu memeluk Islam. Beliau memeluk Islam sebelum Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki  rumah al-Arqam bin Abil Arqam Radhiyallahu anhu, sehingga terhitung sebagai salah satu dari As-Sâbiqûnal Awwalûn.

2⃣ *Jihad Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu*

🌹Jihad Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu dimulai pada Perang Uhud. Ia tidak ikut serta dalam Perang Badar lantaran diutus oleh Rasulullah n ke negeri Syam bersama Thalhah bin ‘Ubaidillâh Radhiyallahu anhu untuk mencari-cari berita tentang kafilah dagang Quraisy. Setelah Perang Uhud, seluruh peperangan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia ikuti. Bahkan Sahabat Nabi yang terkenal dengan keberaniannya ini ikut ambil bagian dalam Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Panglima Khâlid bin WalîdRadhiyallahu anhu dan pengepungan Damaskus.

3⃣ *Sa’îd bin Zaid bin al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu, Orang Yang Terkabul Doanya*

💦Doa orang yang terzhalimi termasuk doa yang mustajab. Bagaimana bila orang yang terzhalimi dan memanjatkan doa itu adalah seorang Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu .

📃Ada sebuah kisah terkait julukan Sa’îd bin Zaid sebagai orang yang *mujâbud da’wah* (doanya dikabulkan).

📢Kisah itu disampaikan oleh ‘Urwah bin az-Zubair rahimahullah bahwa Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu diperkarakan oleh Arwa binti Aus di hadapan penguasa waktu itu, Marwân bin Al-Hakam. Wanita itu mengklaim bahwa Sa’îd bin Zaid  Radhiyallahu anhu menyerobot sebagian dari tanah miliknya. Maka, Sa’îd berkata, *“Apakah aku (akan nekat) mengambil sebagian dari tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasûlullâh?”.* Kemudian Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu mengatakan, *“Aku pernah mendengar Rasûlullâh bersabda:*

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ اْلأَرْضِظُلْمًا فَإِنَّهُ طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

*“Barang siapa menyerobot sejengkal tanah secara zhalim, maka tanah itu akan dikalungkan pada Hari Kiamat dari tujuh bumi”.*  [HR. Al-Bukhâri no. 3198 dan Muslim no.1610]

📌Maka Marwân rahimahullah berkata kepadanya, *“Aku aku tidak akan pernah memintamu saksi setelah (mendengar) ini.*

💧Setelah itu, Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu  mengatakan, *“Ya Allâh, bila Arwa ini memang benar telah berbuat sewenang-wenang kepadaku, maka butakanlah matanya dan jadikanlah kuburnya di sumurnya”.* Lalu Allâh Azza wa Jalla mengabulkan doanya. Wanita itu akhirnya buta, dan suatu hari, ia keluar untuk memenuhi keperluannya, lalu terjerumus ke dalam sumur miliknya dan meninggal di dalamnya.

4⃣ *Hadits Sa’id bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu*

📕Dalam kitab-kitab hadits, tidak banyak hadits yang beliau riwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , hanya sejumlah 48 hadits. Ada dua hadits yang berasal dari Sa’îd bin Zaid  Radhiyallahu anhu di dalam Shahihain.

📚Di antara jumlah yang sedikit itu adalah hadits tentang orang-orang yang mati syahid.

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : مَنْ قُتِلِ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ , وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ ” .

*"Dari Abul A’war Sa’id bin Zaid Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersabda, “Orang yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia matis yahid. Dan orang yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia mati syahid. Dan orang yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia mati syahid. Dan orang yang terbunuh, karena membela keluarganya, maka ia mati syahid”.* [HR. Abu Dawud no.4772, at-Tirmidzi no.1421].

5⃣ *Wafatnya Sa’id bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu*

🍂Said bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu meninggal di ‘Aqîq Madinah pada tahun 51 H dalam usia 73 atau 74 tahun.

🌹 *_Sebuah Pelajaran Penting_* 🌹

💦Kehidupan seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mendatangkan pelajaran-pelajaran berharga bagi umat Islam, sebagaimana akan dapat digali sekian banyak pelajaran dari kehidupan penghuni Surga ini, Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu . Salah satunya, yang keluar dari lisannya saat berkata kepada Marwan, *“Apakah aku (akan nekat) mengambil sebagian dari tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasûlullâh?”,* pengagungannya terhadap petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan komitmen besarnya untuk menghindari ancaman-ancaman siksa yang disampaikan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

_Semoga bermanfaat_
________________________________
Siyaru A’lâmin Nubalâ, adz-Dzahabi 11/124-143

Usdul Ghâbah fî Ma’rifati ash-Shahâbah, Ibnul Atsir hlm. 484-486.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Silahkan lihat Aqîdah as- Salaf Wa Ash-Hâbil Hadîts hlm.287.

Sumber: https://almanhaj.or.id/8871-sad-bin-zaid-aladawi-radhiyallahu-anhu.html

Imam Asy-syafi'i seorang ulama besar fiqih

*IMAM ASY-SYAFI’I SEORANG ULAMA BESAR FIKIH*

🖊Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

*👉🏻Al-Qur`ân diturunkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap selama 23 tahun. Al-Qur`ân berisi garis-garis besar Islam yang sempurna, dari permasalahan tauhid hingga kisah para nabi dan sejarah umat mereka yang beriman dan yang kufur. Dari garis-garis besar yang ada dalam al-Qur`ân ini, Allâh Azza wa Jalla mensyariatkan hukum-hukum yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat. Hukum-hukum ini menjaga agama, jiwa, akal, nasab dan harta.*

💐Sementara Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau telah menunaikan tugasnya *yaitu menyampaikan dan menjelaskan kepada manusia al-Qur`ân yang diturunkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan yang belum terang, mengkhususkan yang masih bersifat umum atau sebaliknya, dan beliau menjelaskan hukum-hukum yang dihapus dan lain-lainnya.*

🔉Para sahabat mendengarkan penjelasan tersebut dan memahaminya secara umum. Mereka tidak membutuhkan tafsir dan penjelasan pengertian lafadz al-Qur`ân dan sunnah tersebut, karena mereka sangat menguasai Bahasa Arab, juga melihat langsung pengamalannya dan dapat langsung bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

‼Namun tidak dipungkiri, perbedaan pemahaman pun terjadi sesuai dengan waktu keislaman mereka, ketinggian ilmu, keutamaan, dan kedekatan mereka dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga saat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, para sahabat Radhiyallahu anhum telah mengetahui dan hafal Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertanam di dada mereka, walaupun tidak ada seorangpun yang menyatakan telah menghafal seluruh hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi setiap masing-masing dari kalangan mereka memiliki dan menghafal hadits yang berbeda-beda satu dengan lainnya.

Para sahabat banyak yang bepergian dan pindah dari kota Madinah. Mereka tinggal di negeri-negeri yang ditaklukkan kaum muslimin. Ada yang menetap di Syam, Iraq, Mesir, dan Yaman. Meskipun begitu mayoritas para sahabat masih ada yang menetap di kota Madinah. Secara otomatis para sahabat yang menetap di negeri-negeri tersebut menjadi nara sumber dan pemberi fatwa bagi penduduknya, baik dari kalangan ulama tabi’in maupun kaum awam mereka.

*👉🏻Pada masa tabi’in, para Ulama tabi’in mewarisi al-Qur`ân dan Sunnah dengan pemahamannya dari para sahabat, juga ditambah dengan ijtihad Ulama sahabat dan fatwa mereka. Semua ini ditambahkan lagi dengan pendapat dan hukum serta peradilan yang mereka lakukan terhadap kejadian dan peristiwa yang ada. Sehingga pada masa para imam besar, seperti Imam Mâlik, Imam asy-Syâfi’i, dan Imam Ahmad serta lainnya, fiqih dan ijtihad tersebut menjadi semakin banyak dan besar seiring dengan banyaknya kejadian dan peristiwa serta jumlah kaum Muslimin yang meningkat sangat tinggi.*

📌Banyaknya peristiwa dan kejadian memotivasi para Ulama mujtahid membahas hukum syar’i atas semua peristiwa tersebut atau kejadian yang dialaminya. Sebagian mereka memandang nash-nash syariat yang bersifat umum dan khusus yang jelas illah hukumnya cukup untuk memberikan hukum atas setiap peristiwa yang terjadi, sehingga mereka mengambil fiqih dari banyak hadits dan berusaha menjauhi istimbat akal, dan ini dikenal dengan madrasah hadits di Hijâz. Diantara tokoh-tokohnya adalah Sufyân ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Mâlik dan Ahmad bin Hambal. Ada juga yang mengambil istimbat hukum dari nash-nash tersebut dan menjadikan kaidah dalam menjawab hukum setiap ada kejadian. Sehingga istimbat akal lebih dominan dari penguasaan nash-nash syariat. Ini dinamakan madrasah ar-ra’yu di Iraq. Diantara tokoh-tokohnya adalah an-Nakha-i, Hammad, Rabi’ah ar-Raa’i, dan Abu Hanifah serta murid-murid beliau.[1]

👆🏻Dengan mengetahui persoalan di atas, maka sangat dipandang perlu untuk mengenal sejarah perkembangan fiqih dan para tokoh Ulama mujtahidnya. Bahwasannya mengenal biografi dan konsep pemikiran Ulama mujtahid yang telah membangun pondasi dan bangunan sebuah konsep ilmu itu sangat penting, terkhusus dalam hal ilmu fiqih yang telah mencapai puncak keemasannya.

❓Mengapa mengenal sejarah perkembangan fiqih itu perlu ? ❕Karena untuk mengetahui dan meneliti sejarah terbentuknya dan berkembangnya madzhab dan madzhab-madzhab fiqih secara umum yang dinisbatkan kepada para mujtahid sebagai pembentuknya.

Meneliti biografi lengkap seorang mujtahid dan usaha-usahanya dalam membentuk satu madzhab dengan penjelasan ushul dan furu`nya dari sumbernya yang asli adalah penjelas kejiwaan sang mujtahid dan perkembangan fase kehidupannya. Hal ini sama dengan seorang yang menanam biji di tanah yang subur, kemudian tanah tersebut menumbuhkan dan memberikan kehidupannya dalam fase-fase tertentu dengan izin Allâh sehingga menjadi tumbuhan yang lebat dan berbuah.[2]

🌷Mengambil madzhab langsung dengan meneliti imam madzhab baik yang berasal dari pendapat, pemikiran dan bimbingannya memberikan kepada jiwa kita sejumlah pemikiran dan perasaan yang menggambarkan mujtahid tersebut ketika berpendapat. Sehingga mendapatkan pengetahuan secara sempurna dan memiliki sikap proporsional untuk dapat menghukumi pendapat imam madzhab dengan benar serta perbandingannya dengan madzhab lainnya dengan dasar yang tepat dan benar. Disamping itu, kita dapat belajar ushul dan standarisasi yang dimiliki sang imam madzhab.

Salah satu imam besar dunia dalam fiqih yang dapat menggabungkan antara madrasah al-hadîts dan madrasah ar-ra’yu adalah *Imam Abu Abdillâh Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsmân bin Syâfi’ al-Muthalibi al-Qurasyi*. 👉🏻Seorang imam yang dilahirkan di Gaza, Palestina dan mengambil ilmu dari para Ulama dua madrasah tersebut.

🍃Imam asy-Syâfi’i rahimahullah mengambil dari para Ulama dua madrasah hadits dan mengetahui betul hakikat dan fiqih khilaf mereka, kemudian beliau berijtihad serta membangun pondasi dan kaidah dalam konsep fiqih yang menggabungkan kedua konsep fiqih dua madrasah tersebut. Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah berkata: *“Kami terus menyalahkan ahlu ra’yi dan mereka pun menyalahkan kami hingga datang asy-Syafi’i dan menggabungkan kami semua”.[3]*

🔉Al-Qadhi ‘Iyâdh, setelah menyampaikan pernyataan Imam Ahmad tersebut, ia berkata: *“Maksudnya adalah Imam asy-Syafi’i berpegang teguh dengan atsar yang shahîh dan menggunakannya, kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa diantara ra’yi (istimbat akal) ada yang dibutuhkan dan menjadi dasar hukum syar’i, dan itu adalah qiyas atas ushul yang diambil darinya. Beliau juga menujukkan bagaimana mengambilnya dan bergantung kepada ilat-ilat dan seputarnya. Sehingga Imam asy-Syâfi’i mengajarkan ash-habul hadits bahwa ra’yu yang shahîh adalah cabang dari pokok (nash syariat), dan (dia) mengajarkan ash-habur ra’yi bahwa tidak ada cabang kecuali setelah pokoknya dan wajib mendahulukan hadits shahîh dan atsar yang shahih lebih dahulu”.*

Sungguh benar yang disampaikan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah tersebut dan hal ini nampak jelas bila kita mengenal dan menelaah kitab ar-Risâlah dan kitab al-Umm karya Imam asy-Syafi’i yang saat ini belum mendapatkan perhatian besar dari kita. Oleh karena itu maka –insya Allâh- kami akan menyampaikan pernyataan dan pendapat Imam asy-Syafi’i dalam rubrik ini secara berkelanjutan. Harapan kami, semoga kita dapat menjadikannya lentera cahaya dalam hidup beragama di negara ini.

Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
*Footnote*
[1]. Diringkas dari kitab al-Imam asy-Syafi’i Faqiih, as-Sunnah al-Akbar, hlm. 7-10, dan hlm. 224-225.
[2]. Diambil secara ringkas dari kitab Imam asy-Syafi’i, Hayâtuhu wa ‘Ashruhu, Muhammad Abu Zahrah, Darul-Fikri al-Arabi, Cet. kedua tahun 1978 M, hlm. 7.
[3]. Tartîb al-Madârik, al-Qâdhi ‘Iyâdh, 1/95.

📝Sumber: https://almanhaj.or.id/4295-imam-asy-syafii-seorang-ulama-besar-fikih.html

________🌱________
-===============-
🔄 *Published by* : _Grup Remaji Salafiyyah Kampar (RSK)_
Tema Artikel Islam : *Tauhid, Aqidah, Manhaj, Adab, Fiqih, Siroh (Nabi, Sahabat & Ulama, Tazkiyatunnafsi, Motivasi, dll.*
________🌱________
-===============-


=======🌸=======

📡 *Silahkan share, semoga menjadi amal jariyah*

Raih keamanan dengan iman dan do'a

🍒 *RAIH KEAMANAN DENGAN IMAN DAN DO’A* 🍒

Keamanan adalah dambaan dan harapan semua orang dari berbagai kalangan serta professi, dimanapun dan kapanpun. Kepada Negara, pejabat negara, guru, pelajar, para pelaku bisnis, nelayan, petani dan lain sebagainya membutuhkan keamanan dan situasi untuk merealisasikan tujuan masing-masing.  Untuk itu, pikiran dicurahkan untuk mencari ide cemerlang demi meraih keamanan. Namun sejalan dengan perbedaan latar belakang dan cara pandang, maka penilaian terhadap tolok ukur kemanan dan bagaimana meraihnya juga berbeda.

Sebagaimana insan yang kepada Allâh Azza wa Jalla, Rabb semesta alam, kita yakin bahwa keamanan itu adalah anugerah dari Allâh Azza wa Jalla.

*Allâh Azza wa Jalla berfirman:*

*أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ*

*Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [Al-Qashash/28: 57]*

*Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:*

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ﴿٣﴾الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

*“Maka hendaklah mereka beribadah kepada Rabb Pemilik rumah Ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quraisy/106:3-4]*

*Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya cara meraih keamanan. Memperbaiki kwalitas iman dan mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya serta selalu berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla , memohon keamanan.*

*Allâh Azza wa Jalla berfirman:*

*الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ*

*Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’am/ 6: 82]*

✅Semakin baik keimanan seseorang maka semakin besar keamanan yang dirasakannya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika keimanan menipis atau hilang, maka sejalan dengan itu, keamanannya akan berkurang atau sirna dari dirinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar berdoa setiap hari, pagi hari dan sorenya, dengan doa yang Beliau *Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.*

اللَّهُمَّ إنِّي أسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي ، وَعَن يَمِينِي وَعَن شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي ، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

*Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allâh, sungguh aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan untuk agamaku, duniaku, keluargaku dan dan hartaku. Ya Allâh, tutuplah auratku (aib celaku), berilah keamanan dari rasa takutku. Ya Allâh, perliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan dari arah atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu, agar aku terhindar kebinasaan dari bawahku (dibenamkan  ke dalam bumi). [HR. Abu Daud, An-Nasâ’i, Ibnu Mâjah]*

Bukan hanya itu, *Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk berdoa memohon keamanan ketika melihat hilal, bulan sabit pertanda bulan baru.*

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالْإِيمَانِ ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ

*[Allâh Maha Besar], Ya Allâh munculkanlah hilal ini kepada kami dengan rasa aman dan iman, keselamatan dan Islam. Rabb ku dan Rabb mu adalah Allâh*

❤Itulah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, utusan Allâh, doanya mustajab, namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berdoa setiap hari memohon keamanan. Masih adakah alasan untuk tidak berdoa memohon keamanan?

Ini sekaligus menunjukkan urgensi keamanan dalam kehidupan kita.

‼Oleh karena itu, marilah kita berusaha meraih keamanan yang dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla dengan memperhatikan keimanan dan tetap berdoa kepada-Nya.

🗒Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


📱Sumber: https://almanhaj.or.id/8886-raih-keamanan-dengan-iman-dan-doa.html

🔄 *Published by* : _Grup Remaji Salafiyyah Kampar (RSK)_

Tema Artikel Islam : *Tauhid, Aqidah, Manhaj, Adab, Fiqih, Siroh (Nabi, Sahabat & Ulama, Tazkiyatunnafsi, Motivasi, dll.*
________🌱________
-===============-



=======🌸=======

📡 *Silahkan share, semoga menjadi amal jariyah*

Abu Darda Radhiyallahu anhu, sahabat yang Zuhud dan taat beribadah

*ABU DARDA RADHIYALLAHU ANHU, SAHABAT YANG ZUHUD DAN TAAT BERIBADAH*

_BELIAU ADALAH SAHABAT YANG ZUHUD DAN RAJIN BERIBADAH_
Abu Juhaifah Wahb bin `Abdillâh Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman al-Fârisi dan Abu Darda` Radhiyallahu anhuma.” Setelah itu Salmân Radhiyallahu anhu mengunjungi Abu Darda` Radhiyallahu anhu. Dia melihat Ummu Darda`Radhiyallahu anha memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. Salman Radhiyallahu anhu bertanya kepadanya, “Wahai Ummu Darda`, kenapa engkau berpakaian seperti itu?”

Ummu Darda` Radhiyallahu anha menjawab, “Saudaramu Abu Darda` Radhiyallahu anhu sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu shalat malam.”

Lantas datanglah Abu Darda` Radhiyallahu anhu dan menghidangkan makanan kepadanya seraya berkata, “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa”

Salman Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak akan makan hingga engkau makan.” Lantas Abu Darda` Radhiyallahu anhu pun ikut makan.

Tatkala malam telah tiba, Abu Darda` Radhiyallahu anhu pergi untuk mengerjakan shalat. Akan tetapi, Salman Radhiyallahu anhu menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah” dan dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak shalat, dan Salman Radhiyallahu anhu berkata lagi kepadanya, “tidurlah.” (dia pun tidur lagi-pen)

Ketika malam sudah lewat Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu , “Wahai Abu Darda`, sekarang bangunlah”. Maka keduanya pun mengerjakan shalat”

Setelah selesai shalat, Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu, “ (Wahai Abu Darda`) sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.”

(selanjutnya) Abu Darda` Radhiyallahu anhu mendatangi Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya.

*Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salman benar” [HR. al-Bukhâri no. 1867., kitab Ash-Shahâbah hlm.462]*

Dalam riwayat lain yang lain, Abu Darda` Radhiyallahu anhu mengatakan, “Tatkala Nabi diutus menjadi rasul, ketika itu aku adalah seorang pedagang. Aku ingin menggabungkan ibadahku dan pekerjaanku, namun keduanya tidak bisa bersatu. Kemudian aku pun meninggalkan pekerjaanku dan memilih beribadah kepada Allah Azza wa Jalla . Demi Allah Azza wa Jalla , alangkah senangnya seandainya aku memiliki toko di jalan menuju pintu masjid hingga aku tidak meninggalkan shalat. Aku bisa mendapatkan keuntungan empat puluh dinar dan bisa aku sedekahkan semua di jalan Allah Azza wa Jalla .”

Seseorang bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Darda` Radhiyallahu anhu , kenapa engkau membenci hal (harta) itu?”

*Beliau menjawab, “Aku takut (hisab yang dahsyat). Pada hari kiamat Allah Azza wa Jalla akan menghisab hartaku ini dan bertanya kepadaku dua hal :*

Pertama : Darimana harta itu diperoleh, dan
Kedua : Kemana harta itu dibelanjakan. Harta yang halal ada hisabnya dan harta yang haram ada siksanya.” [Ash-Shahâbah hlm. 461-463]

Dalam riwayat lain Abu Darda` Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku senang seandainya aku bisa berdagang di jalan dekat pintu masjid, setiap harinya aku bisa memperoleh 300 dinar dan aku bisa mengerjakan shalat lima waktu di masjid. Aku tidaklah mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Akan tetapi aku lebih senang menjadi orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari beribadah kepada Allah Azza wa Jalla .’” [Al-Hilyah 1/20 / Ash-Shahabah hlm. 463]

_DI ANTARA PESAN-PESAN ABU DARDA RADHIYALLAHU ANHU_
Beliau mengatakan, *“Seandainya kalian mengetahui apa yang akan kalian lihat setelah kematian, pasti kalian tidak akan berselera untuk makan, minum, dan berteduh di dalam rumah. Kalian akan keluar menuju tempat-tempat yang tinggi dan memukul-mukul dada kalian serta menangisi diri-sendiri. Sungguh, aku lebih senang menjadi sebatang pohon yang dikunyah kemudian ditelan. [Az-Zuhd, Imam Ahmad/ Ash-Shahâbah hlm. 465]*

*Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan sedikit gembira dan jarang berbuat hasad”*

Beliau berkata, “Ada 3 hal yang membuatku tertawa dan 3 hal yang membuatku menagis. 3 hal yang membuatku tertawa yaitu :

1⃣Pertama : Orang yang cita-citanya adalah duniawi, padahal kematian selau mengintainya

2⃣Kedua: Orang yang lalai dari kematian, padahal kematian tidak pernah lalai kepadanya, dan

3⃣Ketiga: Orang yang berlalu banyak tertawa, ia tidak tahu apakah Allah Azza wa Jalla murka atau ridha kepadanya.

Adapun 3 hal yang membuatku menangis adalah, *dahsyatnya kiamat, terputusnya amal, dan keadaanku di hadapan Allah Azza wa Jalla , apakah akan dimasukkan di surga atau neraka*.”

Beliau juga pernah berkata, “Wahai manusia, injakkan kakimu ke tanah. Sesungguhnya sebentar lagi ia akan menjadi kuburmu. Wahai manusia, sesungguhnya hidupmu hanya beberapa hari, tiap kali waktu berlalu, berarti sebagian hidupmu telah pergi. Wahai manusia, engkau sekarang ini selalu menghabiskan umurmu sejak lahir dari rahim ibumu. ” Seorang penyair mengatakan:

نَسِيْرُ إِلَى اْلآجَالِ مِنْ كُلِّ لَحْظَةٍ وَأَيَّامُنَا تُطْوَى وَهُنَّ مَرَاحِلُ
وَلَمْ أَرَ مِثْلَ الْمَوْتِ حَقًّا كَأَنَّهُ إِذَامَا تَخَطَّتْهُ اْلأَمَانِيَّ بَاطِلُ
وَمَا أَقْبَحَ التَّفْرِيْطَ فِيْ زَمَنِ الصِّبَا فَكَيْفَ بِهِ وَالشَّيْبُ لِلرَّأْسِ شَاعِلُ
تَرَحَّلْ مِنَ الدُّنْيَا بِزَادٍ مِنَ التُّقَى فَعُمْرُكَ أَيَّامٌ وَهُنَّ قَلاَ ئِلُ

Kita berjalan menuju ajal dalam setiap detiknya
Hari-hari kita selalu berlalu, dan memiliki tahapan-tahapan

Aku belum pernah melihat ada sesuatu yang lebih meyakinkan daripada kematian
Seolah-olah, semua yang tidak dijangkau oleh angan-angan (kematian-pen), tidak bisa diterima.

Alangkah buruknya perbuatan kita (meninggalkan agama-pen) tatkala muda
Lantas, bagaimana seseorang itu tetap meninggalkan agama, padahal ubannya telah menyala

Berjalanlah kamu di dunia ini dengan bekal takwa
Karena, umurmu hanyalah beberapa hari, dan itu sangatlah sedikit

Demikian sosok sahabat yang agung, mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai suri teladan yang baik. Wallâhu a`lam

📚Referensi
1. Kitab Ash-Shahabah,Dr, Shalih bin Thaha Abdul Wahid, Maktabah Ghuraba
2. Usudul Ghâbah fi Makrifati Shahabah, Izzudin bin Atsir Abil Hasan Ali bin Muhammad al-Jaziri

🗒[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]



📱Sumber: https://almanhaj.or.id/3806-abu-darda-radhiyallahu-anhu-sahabat-yang-zuhud-dan-taat-beribadah.html
-===============-
🔄 *Published by* : _Grup Remaji Salafiyyah Kampar (RSK)_

Tema Artikel Islam : *Tauhid, Aqidah, Manhaj, Adab, Fiqih, Siroh (Nabi, Sahabat & Ulama, Tazkiyatunnafsi, Motivasi, dll.*
________🌱________
-===============-



=======🌸=======

📡 *Silahkan share, semoga menjadi amal jariyah*

Melecut semangat untuk menuntut ilmu syar'i dan beramal shalih

*🌱🌱Melecut Semangat Untuk Menuntut Ilmu Syar’i dan Beramal Shalih🌱🌱*

Kita mungkin banyak menyaksikan realita di sekitar kita, ketika seorang muslim saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan nomor satu dalam masalah dunia. Akan tetapi untuk masalah akhirat, dia sangat rela ketika orang lain yang menjadi “sang juara”. Hal ini bertolak belakang dengan seruan Allah Ta’aladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setiap muslim saling berlomba dalam ketaatan dan ketakwaan untuk meraih berbagai kenikmatan di surga.

Islam adalah agama yang memotivasi agar umatnya memiliki semangat beramal yang tinggi serta menyibukkan diri dan memperhatikan masalah-masalah yang penting dan memiliki keutamaan yang agung. Islam juga menyeru kita untuk menjauhkan diri dari tenggelam ke dalam permasalahan-permasalahan sepele yang tidak banyak manfaatnya, baik manfaat di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak.

Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

*“Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”[QS. Ali Imron (3): 133]*

Allah Ta’ala juga mensifati hamba-hambaNya yang shalih karena mereka bersegera dalam kebaikan, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

*“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”[QS.Al Anbiyaa’ (21): 90]*

Begitu pula dengan firman Allah Ta’ala yang menyeru kita untuk bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba untuk dalam mengerjakan amal shalih yang lainnya. Allah Ta’alaberfirman,

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

*“Dan untuk yang demikian ituhendaknya manusia berlomba-lomba“. [QS. Al Muthaffifin (83): 26]*

*Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah* berkata,
_”Ketika para shahabat radhiyallahu ‘anhum mendengar seruan_ (yang artinya), *Berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebaikan!’ (QS. Al Baqarah: 148)* dan panggilan (yang artinya), *’Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi’ (QS. Al Hadid: 21),* _mereka memahami bahwa yang dimaksud adalah agar mereka bersungguh-sungguh sehingga setiap orang dari mereka adalah yang pertama kali meraih kemuliaan itu.Mereka pun bersegera untuk mencapai derajat yang tinggi tersebut. Jika mereka melihat saudaranya mampu melakukan suatu amal yang belum mampu dia kerjakan, mereka khawatir bahwa saudaranya tersebut akan mendahuluinya. Mereka pun bersedih karena tidak menjadi yang terdepan._
 Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk meraih derajat akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘*Dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.’(QS. Al Mutahaffifin: 26)*
_Kemudian mereka diikuti oleh suatu kaum yang berkebalikan dari mereka, yaitu kaum yang berlomba-lomba untuk meraih dunia yang rendah dan kenikmatannya yang segera menghilang.”_ [1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyeru kita agar memiliki motivasi yang tinggi dan berlomba-lomba dalam ketaatan dan amal shalih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعك وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ وَلَا تَعْجِز

*“Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah.”* [2]

Dan tidak diragukan lagi, bahwa perkara yang bermanfaat dalam agama kita ini kembalinya kepada dua hal, yaitu _ilmu yang bermanfaat dan amal shalih_.[3] 
Jangan sampai kita menunda-nunda untuk mengerjakan amal shalih sebagaimana peringatan yang telah disampaikan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

*“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah, seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang paginya beriman, namun sorenya menjadi kafir. Atau seseorang yang sorenya masih beriman, namun paginya telah kafir. Dia menjual agamanya dengan tujuan-tujuan dunia.”*[4]

_An-Nawawi  rahimahullah_ berkata ketika menjelaskan hadits ini, 
*“Makna hadits ini adalah  motivasi untuk segera beramal shalih sebelum mustahil beramal atau kita disibukkan oleh perkara yang lain, berupa berbagai masalah yang menyibukkan, banyak, dan bertumpuk-tumpuk sebagaimana bertumpuk -tumpuknya  kegelapan malam jika tanpa diterangi sinar rembulan.* Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendeskripsikan dahsyatnya bahaya tersebut, sehingga seseorang yang sorenya masih beriman, namun esok paginya sudah kafir, atau sebaliknya (perawi ragu-ragu terhadap hal ini). Hal ini terjadi karena dahsyatnya bahaya yang ada, sehingga hati manusia bisa berubah dalam sehari saja.“ [5]

Seseorang yang tidak menyibukkan dirinya dalam mengerjakan amal shalih dan ketaatan kepada Allah Ta’ala,maka bisa jadi dia akan diuji dengan disibukkan dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan dirinya.
*Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah* berkata, 
*”Termasuk di antara keajaiban takdir dan hikmah ilahiyyah adalah barangsiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak mau berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat ujian dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan dirinya.* *Barangsiapa yang meninggalkan ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapat ujian berupa beribadah kepada berhala.* *Barangsiapa yang meninggalkan rasa cinta kepada Allah, takut, dan berharap kepada-Nya, maka dia akan mendapat ujian dengan mencintai, takut, dan berharap kepada selain Allah.* *Barangsiapa yang tidak membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Allah, maka dia akan membelanjakannya dalam ketaatan kepada setan.* *Barangsiapa yang meninggalkan ketundukan kepada Allah, dia akan mendapat ujian dengan tunduk kepada hamba-Nya.* *Dan barangsiapa yang meninggalkan kebenaran, dia akan mendapat ujian dengan terjerumus dalam kebatilan.”*[6]

Ketika ditanya tentang cita-cita, mungkin sebagian besar di antara kita menjawab dengan menyebutkan berbagai cita-cita yang berkaitan dengan urusan duniawi. Dalam hal duniawi pula, sebagian besar di antara kita berlomba-lomba di dunia ini, entah untuk meraih gelar akademik tertinggi; berlomba-lomba untuk meraih pangkat, jabatan, atau popularitas; atau bersaing dalam masalah harta dan kemewahan hidup di dunia. Sedikit di antara kita yang memposisikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi dalam hidup kita di dunia ini.

Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang shahabat yang mulia, _Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!”Robi’ah berkata,“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,“Atau selain hal itu?”Robi’ah berkata,“Ya, itu saja.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.”_ [7]

Oleh karena itu, sangat jauhlah perbedaan antara orang yang cita-citanya tertuju pada makanan, minuman dan syahwat, dengan orang yang cita-citanya tertuju pada istana di surga! 
_Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahberkata,”Ketahuilah, sesungguhnya cita-cita itu ada dua macam, (pertama) cita-cita yang kembalinya kepada dubur (makanan) dan qubul (seks); dan (ke dua) cita-cita yang terikat dengan yang berada di atas ‘Arsy, yaitu Allah Ta’ala.”_ [8]

_Hasan Al-Bashri rahimahullahberkata,“Jika Engkau melihat ada seseorang yang menyaingimu dalam masalah dunia, maka saingilah dia dalam masalah akhirat._” [9]

_Wuhaib bin Warod rahimahullah mengatakan,“Jika Engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu menuju Allah, maka lakukanlah!”_ [10]

Niat yang ikhlas dan motivasi yang tinggi hendaknya menjadi jiwa yang menerangi langkah seorang muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana seseorang bisa memiliki semangat yang membara untuk mengejar dunia, maka semangat yang lebih besar dan lebih tinggi harus dimiliki oleh seorang muslim untuk mengejar akhirat. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan menuai hasilnya karena surga AllahTa’ala itu sangat mahal harganya.

Setiap detik waktu yang dimiliki oleh seorang mukmin hendaknya diisi dengan semangat, karena dia mengetahui betapa mulianya waktu tersebut. Barangsiapa yang menginginkan pahala, maka akan terasa ringanlah segala beban yang dia rasakan. Semakin tinggi cita-cita seseorang, maka segala rintangan, hambatan, kesulitan, dan keletihan yang dia alami akan terasa sangat kecil dan ringan. 
_Imam Ahmad rahimahullah berkata,”Sungguh aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku (untuk menuntut ilmu, pent.)_.” _Dan ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya,”Kapankah seorang hamba merasakan nikmat istirahat (dari menuntut ilmu dan beramal, pent.)?, maka beliau rahimahullah menjawab,”Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di surga.”_ [11]

Semoga tulisan ini dapat melecut semangat kita untuk menuntut ilmu syar’i dan melaksanakan berbagai amal shalih lainnya secara umum.

Catatan Kaki:

*[1] Lathooiful Ma’aarif, hal. 428.*
*[2] HR. Muslim.*
*[3] Lihat penjelasan hadits ini oleh Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah di Bahjatu Quluubil Abraar, hal. 42-44.*
*[4] HR. Muslim.*
*[5] Syarh Shahih Muslim,1/232.*
*[6] Taisir Karimir Rahman,hal. 60-61; ketika beliau menjelaskan tafsir QS. Al Baqarah (2) ayat 101*.
*[7] HR. Muslim.*
*[8] Al Fawaa-id, karya Ibnul Qoyyim rahimahullah.Dikutip dari Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 16-17.*
*[9] Lathooiful Ma’aarif, hal. 428.*
*[10] Lathooiful Ma’aarif, hal. 428.*
*[11] Ar-Roqoo’iq, karya Muhammad Ar-Rasyid. Dikutip dari Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 17.*

✍🏻Muslim.Or.Id
________🌱________
-===============-
🔄 *Published by* : _Grup Remaji Salafiyyah Kampar (RSK)_

Tema Artikel Islam : *Tauhid, Aqidah, Manhaj, Adab, Fiqih, Siroh (Nabi, Sahabat & Ulama, Tazkiyatunnafsi, Motivasi, dll.*
________🌱________
-===============-



=======🌸=======

📡 *Silahkan share, semoga menjadi amal jariyah*

Kafirkah orang yang meninggalkan shalat? Bag.2

*🔍KAFIRKAH ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT (BAG.2 AKHIR)🔍*

OLEH, 
_Ust.Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah_

HUKUMAN BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

_*Para Ulama berbeda pendapat tentang hukuman yang pantas bagi orang yang meninggalkan shalat. Sebagian mereka mengatakan bahwa hukumannya didera dan dipenjara. Ada juga yang mengatakan dibunuh sebagai hukum hadd baginya, bukan karena murtad. Ini menunjukkan ancaman yang keras bagi orang yang meninggalkan shalat.*_

👉🏻Hendaknya seorang Muslim merasa takut apabila keislamannya diperdebatkan oleh Ulama dengan sebab meninggalkan shalat.

⛔Orang yang meninggalkan  shalat telah berbuat dosa besar yang paling besar, lebih besar dosanya di sisi Allâh Azza wa Jalla daripada membunuh jiwa, mengambil harta orang lain. Lebih besar dosanya daripada dosa zina, mencuri dan minum khamr. Orang yang meninggalkan shalat akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allâh di dunia dan di Akhirat.[8]

📚Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, _*“Orang yang enggan mengerjakan shalat fardhu maka ia berhak mendapatkan hukuman yang keras (berat) berdasarkan kesepakatan para Imam kaum Muslimin, bahkan menurut jumhur ummat, seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, dan selain mereka, ia wajib untuk disuruh bertaubat, jika ia bertaubat (maka ia terbebas dari hukuman) dan jika tidak maka ia dibunuh. Bahkan orang yang meninggalkan shalat lebih jelek daripada pencuri, pezina, peminum khamr, dan penghisap ganja.”*_[9]

📚Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, _*“Fasal tentang orang yang meninggalkan shalat, apakah ia dibunuh karena hadd ataukah karena kafir?*_
Adapun masalah yang ketiga, yaitu: apakah (orang yang meninggalkan shalat) dibunuh karena hadd seperti dibunuhnya muharib (pelaku teror) dan pezina, ataukah dia dibunuh seperti dibunuhnya orang murtad dan zindiq? Dalam masalah ini ada dua pendapat menurut para ulama, dan keduanya adalah riwayat dari Imam Ahmad:

⚖Pertama: Ia dibunuh seperti dibunuhnya orang yang murtad. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair, ‘Amir asy-Sya’bi, Ibrahim an-Nakha’i, Abu ‘Amr al-Auza’i, Ayub as-Sikhtiyani, ‘Abdullah bin al-Mubarak, Ishaq bin Rahawaih, ‘Abdul Malik bin Habib dari madzhab Maliki, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i, dan diceritakan dari Imam asy-Syafi’i sendiri oleh ath-Thahawi, dan diceritakan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm dari ‘Umar bin al-Khaththab, Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan para Shahabat yang lainnya.

⚖Kedua: Ia dibunuh karena hadd, bukan karena kafir. Ini adalah pendapat Malik, asy-Syafi’i, dan riwayat inilah yang dipilih oleh ‘Abdullah Ibnu Baththah.”[10]

📚Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, _*“Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat karena malas maka sah dihukumi keislamannya selama tidak ada sesuatu yang menyingkap apa yang disembunyikan dalam hatinya, atau yang menunjukkan pada hal itu, dan ia meninggal di atas yang demikian itu sebelum ia disuruh bertaubat; sebagaimana hal tersebut terjadi di zaman sekarang ini. Adapun jika ia diberikan pilihan antara dibunuh dan bertaubat dengan kembali menjaga shalatnya, lalu ia memilih untuk dibunuh, maka ia harus dibunuh, dan pada keadaan seperti ini dia mati dalam keadaan kafir, tidak boleh dikubur di pemakaman kaum muslimin dan tidak diberlakukan hukum-hukum kaum Muslimin atasnya… karena tidak masuk akal –kalau bukan karena pengingkaran di dalam hatinya–ia memilih untuk dibunuh karenanya, menurut akal sehat, mustahil seseorang lebih memilih dibunuh daripada mengerjakan shalat. Ini menunjukkan kekafirannya. Hal ini diketahui secara pasti dari tabi’at manusia, untuk menetapkannya tidak butuh lagi kepada burhan (dalil).”*_[11]

👉🏻Sementara itu ada Ulama lain yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak dibunuh tetapi dipenjara hingga mati atau bertaubat. Ini adalah pendapat az-Zuhri, Ibnul Musayyib, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Abu Hanifah, Dawud azh-Zhahiri, al-Muzani, dan Ibnu Hazm.[12]

*📌Tetapi perlu diingat dan dicamkan bahwa yang melakukan hukuman ini adalah ulil amri (pemerintah kaum Muslimin). Tidak semua orang berhak melakukan hukuman ini.*

_Mudah-mudahan Allâh Azza wa Jalla menunjuki kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat lima waktu serta menyadarkan kaum Muslimin yang masih lalai dan malas dari shalat agar diberi petunjuk oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk melaksanakannya. Karena shalat merupakan tiang agama dan syi’ar Islam yang besar, sebagai pembeda dengan orang-orang kafir._

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[8]  Lihat kitab ash-Shalâh wa Hukmu Târikiha (hlm. 29) karya Imam Ibnul Qayyim. Lihat juga Majmû’ Fatâwâ Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah, XXII/50.

[9]  Majmû’ Fatâwâ, XXII/50.

[10]  Ash-Shalâh wa Hukmu Târikihâ, hlm. 48-49.

[11]  Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, I/177 dengan diringkas.

[12]  Lihat Shahîh Fiqhis Sunnah, I/233.

Sumber: https://almanhaj.or.id/8139-kafirkah-orang-yang-meninggalkan-shalat.html

________🌱________
-===============-
🔄 *Published by* : _Grup Remaji Salafiyyah Kampar (RSK)_

Tema Artikel Islam : *Tauhid, Aqidah, Manhaj, Adab, Fiqih, Siroh (Nabi, Sahabat & Ulama, Tazkiyatunnafsi, Motivasi, dll.*
________🌱________
-===============-


=======🌸=======

📡 *Silahkan share, semoga menjadi amal jariyah*